Mereka Hidup Di Kepala

/1/
kau yang tlah mati, tak benarbenar mati
tapi hanya sembunyi di dalam peti
di sudut kepala bermain sepi

kau yang tlah lari, tak benarbenar lari
tapi hanya berkelit dari jeri
di lembah kelam berharap letih

/2/
kau pikir kau asap,
menggelantang rasa
berharap lepas

kau pikir kau raga
tak lekang kan raba
berharap lega

/3/
kau yang tlah mati, tak bisa menari
karena rasa dan raga tak lagi berduri
dekati surga tanpa bisa kau raba

21.10.2008, 03:46PM

*sajak ini dibuat berbarengan dengan lagu yang berjudul 42 (Coldplay) didengarkan, dan saya yakin sajak ini terpengaruh olehnya*

Di Ambang Terbang

(kami dengar Pain of Salvation memainkan Pluvius Aestivus)

seperti gamang jejak pertama
seperti bumi kecil yang gempa
getar getir
kosong pada skala tuan richter

pada awal denting meredup
seperti runcing kabut menghasut
derap petir bergema lembut

seperti leleh hujan batu
menyentuh pucuk-pucuk ngilu
yang telah meluap sedalam dada …

kelam seiring melebam
meretas bilahbilah besi
menyeruput rasa sedalam surga

15.10.2008, 01:55

*kolaborasi bang HAH & bangwin*

KETIKA aku menujukan tatap ke dalam matamu
kutemukan cinta tertahan, terbendung-buntu
tetapi, kekasihku, ketika kugenggam engkau
takkah kau tahu, padaku ada rasa yang satu?

Karena tak akan pernah ada yang tak berubah
dan kita sama kita tahu, hati pun mudah guyah
dan o betapa susah-payah menjaga lilin nyala
dalam dingin November hujan selebat-lebatnya

Kita telah diterpa ini peristiwa, telah lama,
hanya bisa mencoba, mencoba, membunuh derita
tetapi kekasih senantiasa tersambut dan luput
tak ada yang tahu, hari ini siapa nama tersebut

Jika kita ada sempat, ambil tempat, membentang
waktu di garis tepat, aku bisa merebah kepala
hanya untuk tahu: kau milikku, seutuhnya milikku

Maka bila kau ingin juga mencintai aku, kekasih,
kumohon sungguh, o jangan berjeda mencintai aku,
Atau akukah yang harus mengakhiri perjalanan
dalam lebat November hujan sedingin-dinginnya

*

Kau perlu sedikit saja waktu, menyendiri sendiri,
Kau perlu sedikit saja waktu, sepenuhnya sendiri
O setiap siapa saja memang perlu menyepi sendiri
Tak tahukah kau? Kau perlu sendiri. Hanya sendiri.

Aku tahu betapa payah menjaga hati yang membuka
ketika bahkan seorang sahabat seakan hendak menuba
Tetapi ketika kau dapat mengatur hati yang hancur
Takkah waktu itu akan menyeruak memanterai umur?

Kadang aku ingin sedikit waktu, menyendiri sendiri
Kadang aku ingin sedikit waktu, sepenuhnya sendiri
O setiap siapa saja memang perlu menyepi sendiri
Tak tahukah kau? Kau perlu sendiri. Hanya sendiri.

Dan ketika sepasukan ketakutanmu telah reda
Dan ketika sebarisan bayangan masih berjaga
Aku tahu itulah saatnya engkau bisa mencinta
Ketika tak ada orang yang perlu kita persalahkan

Jadi, jangan cemas pada tembok tebal kegelapan
Kita masih bisa menemukan sebentang jalan
Karena tak akan pernah ada yang tak berubah
dalam lebat dingin November sehujan-hujannya.

Takkah kau tahu, kau perlu bersama seorang kawan
Takkah kau tahu, kau perlu bersama seorang kawan
O setiap siapa saja memang perlu seorang kawan
Kau tidak sendirian, kau sungguh tidak sendirian.

— terjemahan bebas atas lagu “November Rain”,
Axl Rose, Pistol-pistol dan Mawar-mawar :-),
dalam album “Manfaatkan Khayalanmu! I”, 1991 —
-

Heartbreak Station

malam yang bingung berbagi duka
kereta blues yang  masih ku tunggu
menyanyikan lagu semusim:

“Asap knalpot dan jaket kulit terbuka,
itu masa lalu yang resah!”

Aku masih ingin mengecupi rindu
rock n roll dan malam keburu melingkarkan lengan
mengacungkan gelasnya sempoyongan

Ahh waktu yang pernah di janjikan
sudahlah terbang
pergi bersama mimpi-mimpi dari kamar
bersama CC Devile lusuh kehujanan

Dan,

Cinderella masih saja kurangajar
menggaungkan
Heartbreak Station
lagunya khusuk mengajak mabuk

Berdua aku, rock n roll bergoyang
menghabiskan manisnya luka
bersama malam yang pahit
bersama Daniel’s
bersama Buick
bersama Chevy
bersama Street Car Named Desire

Bersama waktu usang dan gitar hilang senar

*progrock’n roller

/1/
Gerimis, aih, yang semakin genit,
menari menunggangi menit-menit

/2/
Gerimis, aih, yang semakin berlapis,
derap baris, menebal di tepi pelipis

/3/
Adakah gerimis yang tak sampai?
Ia yang terkibas, sangkut di lambai

lambai yang lekas, kembali bergegas,
jangan aku memungut bekas-bekas.

/4/
Jangan percaya pada cuaca,
kata nasihat lama, angin bisa
berdusta, gerimis bisa ia
permainkan sesuka hatinya….

/5/
Siapa memetik senar sepimu? Lepas
lagu demi lagu, meningkah jantungmu

Berdentingan, dan kau curiga pada
jemari gerimis itu, ia ciptakan jazz
bersama angin yang parau mengembus
dari lorong kosong paru-parumu

/6/
Kemana kau cari riuh gerimismu?
di lekuk kelok sungai tak ada

/7/
Aih, akhirnya, reda jua, kau redakan
sepimu, sepi redakan gerimismu,
gerimis meredakan degup jantungmu.

Siapa yang akan bilang selamat tinggal?

Badut (1)

malam berselimut mimpi
dunia hitam-putih
kusimpan muak setebal pupur di wajah

akulah yang membuatmu tertawa
menahan radang dalam benak
duka menyekap, rasa tak guna

lagi-lagi aku yang harus memulai
“tertawalah, jangan kau singkap sayap gagak mu”

*terinspirasi oleh lagu dari Pain of Salvation yang berjudul “Thorn Clown”

21.02.2008, 12:51am

www.paparankata.com

kau lihat ketakutan itu?
kau dengar dentuman itu?
mengapa harus lari berteduh
pada saat dunia yang baru
di sajikan, di bawah langit biru

kau lihat ketakutan itu?
kau dengar dentuman itu?
semua nyala tlah jadi debu
tapi pedih masih menggebu
selamat tinggal, langit biru

*di terjemahkan dan di interpretasi-ulang dari lagu Pink Floyd yang berjudul “Goodbye Blue Sky”*

rawamangun, 24.02.2007, 09:29

www.paparankata.com

(Ketika dan setelah mendengar
Any Colour You Like, Pink Floyd)

/1/

“Adakah warna yang memikatmu, Tuan?”
aku yang hendak mempersiapkan jawaban

Sungguhkah suara engkau itu bertanya?
Sepertinya baru saja kita memulai bicara….

/2/

gemuruh geram, tapi lalu serentak terdiam.

3 menit 24 detik dan sedetak patah jeram.
mengulang lagi, memulai pencarian jawaban

“Adakah warna yang memikatmu, Tuan?”

/3/

di derasarus itu, jejak waktu lalai kauhitung
warna yang dulu kau sebut dengan murung

di riuhudara itu, kelebat hewan & pertanyaan,
“Adakah warna yang memikatmu, Tuan?”


[Setelah menyimak Pink Floyd dan
sepotong sajak Subagio Sastrowardoyo]

dengung itu kukira jejak berlari kaki cahaya,
dikepung gelap kekal, sebelum waktu diberi nama

pelupuk mataku berkucupan dengan kabut, segala
mengabur, segala menghancur, segala melebur

aku menyalakan api pertama di bumi, tak ada
dengung itu lagi. Tinggal kabut, gelap, dan

waktu yang pincang berpegang pada matahari,
“tak ada lagi yang abadi, tak ada lagi…. “

[The Great Gig in The Sky, Pink Floyd,
saya kira ini semacam komposisi jerit]

/1/

sesungguhnya, Tuan,

siapa yang menjadi nelayan,
dalam ini permainan?

ada tombak raksasa di angkasa,
menikam di punggung malam…

kau kira waktu dan kegelapan ini akan tertahan, Tuan?

o alangkah panjang, o pekikan jeritan,
aku menunggu, subuh, o suara azan.

/2/

yakinkan aku, Tuan,

siapa yang menjadi perahu
dalam ini pelayaran?

memang ada semacam robekan kain layar

kibar kesakitan yang mencatat kesaksian
: penjelajahan ini telah menemukan korban

/3/

beri aku isyarat itu, Tuan,

bila telah sampai tujuan,
kita ingin bertukar peran, bukan?

Back to Top